Angka kematian ibu dan bayi di Jawa Timur tergolong tinggi. Sepanjang 2017, menurut temuan USAID Jalin Jawa Timur, tercatat ada 529 kasus kematian ibu. Dengan kata lain setiap 2 hari ada 3 ibu meninggal dunia. Sedangkan untuk kematian bayi, rata-rata ada 26 bayi meninggal dunia setiap 2 hari.

Salah satu penyebab signifikan terhadap besarnya angka kematian ibu dan bayi adalah preeklampsia.

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang juga menjadi penyebab utama kelainan janin dan kematian janin yang disertai dengan disfungsi plasenta.

Di seluruh dunia, preeklampsia bahkan menyumbang sebanyak 2 persen hingga 8 persen sebagai penyebab kelainan janin dan kematian janin. Bahkan di negara berkembang, hampir 10 persen kematian bayi memiliki kaitan dengan tekanan darah tinggi yang dipicu oleh preeklampsia.

Karena itu, upaya untuk mempelajari preeklampsia dan solusi-solusi yang memungkinkan, penting untuk terus dilakukan.

Salah satunya adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Exma Mu’tatal Hikmah. Dalam artikel berjudul Apium graveolens Prevents Intrauterine Growth Restrictrion via Suppression of Antiangiogenic Factor Production, alumni S2 Ilmu Kedokteran Dasar FK Unair ini mengungkapkan bahwa konsumsi seledri memiliki kemungkinan untuk menjadi solusi menurunkan preeklampsia.

Dalam penelitian yang diterbitkan di dalam Traditional Medicine Journal ini, Exma dan 2 rekannya, Paulus Liben serta Widjiati, baru sebatas mengujicobakan ekstrak seledri kepada 20 ekor hewan percobaan, mencit (mus musculus).

Seledri sendiri telah dikenal luas sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antihipertensi yang mengandung senyawa aktif utama flavonoid-apigenin.

“Selama ini preeklampsia angkanya cukup tinggi. Efeknya, biasanya tekanan darah ibu tinggi dan berat badan lahir bayi rendah. Di penelitian ini, kami mencoba mempelajari efek seledri ke berat badan bayi hewan coba yang lahir, ” kata Exma.

Dalam penelitian ini, Exma dan tim peneliti lainnya, membagi 20 ekor mencit ke dalam empat kelompok.

Kelompok pertama tidak diberi perlakuan apapun, kelompok kedua disuntik dengan anti-Qa2, lalu kelompok ketiga disuntik dengan Anti-Qa2 ditambah dengan CHE sebanyak 500 mg/kgBW. Terakhir, kelompok keempat disuntik dengan anti-Qa2 ditambah dengan CHE 1000 mg/kg bw.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, kelompok kedua adalah mencit model preeklampsia yang tanpa perlakuan seledri, sedangkan kelompok ketiga dan keempat adalah mencit model preeklampsia yang diberi ekstrak herba seledri dengan masing-masing dosisnya 500 miligram per kilogram berat badan dan seribu miligram per klilogram berat badan.

“Anti Qa2 adalah bahan kimia yg menyebabkan disfungsi plasenta. Secara mudahnya, di sini mencit dibuat preeklampsia secara kimia dengan injeksi anti Qa2. Sedangkan CHE atau celery herbs extract adalah ekstrak herba seledri,” jelasnya.

Mencit-mencit ini lalu diletakkan di dalam kandang plastik dengan suhu ruang 23 derajat celsius serta diberi pencahayaan selama 12 jam dalam sehari.

“Hasilnya, kelompok yang disuntik dengan 1000 miligram, bisa melahirkan bayi dengan berat badan yang lebih dibandingkan 3 kelompok lainnya. Kesimpulannya, ekstrak seledri memberikan asupan nutrisi yang cukup untuk bayi dan membuat berat badan bayi naik,” ujar Exma.

Hanya saja, Exma menegaskan bahwa penelitian yang telah dia kerjakan ini baru uji preklinik. Untuk bisa ditindaklanjuti dengan pembuatan produk, masih diperlukan uji toksisitas untuk melihat dosis toksik sekaligus mencari efek samping. Setelah uji toksisitas, barulah penelitian itu dapat dilanjutkan ke tahapan klinik untuk melahirkan sebuah produk yang aman dan layak dikonsumsi.

“Ibaratnya, ini masih kerangka awal penelitian. Masih jauh ke pemanfaatannya,” pungkas Exma.