Data yang dikumpulkan oleh Satelit NASA menunjukkan bahwa bumi saat ini lebih hijau dibandingkan dengan 20 tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh China dan India yang sangat masif menjalankan program penanaman pohon.

Fenomena bumi yang semakin hijau ini pertama diungkapkan oleh Ranga Myneni dari Universitas Boston bersama rekan-rekannya. Mereka memperoleh temuan ini setelah melihat data yang dikumpulkan mulai pertengahan tahun 1990-an. Hanya saja, Myneni belum tahu bahwa fenomena itu sebenarnya disebabkan oleh aktivitas manusia.

Tim peneliti ini menemukan bahwa area hijau di bumi meningkat lima persen sejak awal tahun 2000-an, atau setara dengan luas seluruh hutan hujan Amazon. Dari total pertambahan area hijau ini, sekitar 25 persennya terjadi di China.

Secara keseluruhan, mereka menemukan bahwa sepertiga dari vegetasi menghijau, sementara 5 persen menjadi lebih cokelat. Hasil penelitian ini pun telah dipublikasikan di Jurnal Nature Sustainability pada 11 Februari 2019.

“China dan India menyumbang sepertiga dari semakin luasnya area hijau di bumi, tetapi hanya 9 persen dari luas daratan planet yang tertutup vegetasi,” ujar Chi Chen, pemimpin tim penulis penelitian tersebut dari Universitas Boston seperti dilansir dari earthobservatory.nasa.gov.

“Ini adalah temuan yang mengejutkan apabila mempertimbangkan pandangan umum bahwa degradasi lahan terjadi di negara-negara berpenduduk padat karena eksploitasi berlebihan,” sambungnya.

Penelitian ini sendiri memanfaatkan data selama 20 tahun yang dihimpun dengan memanfaatkan Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang merupakan salah satu instrumen satelit Terra and Aqua milik NASA.

Dengan dukungan peralatan ini, cakupan yang tersedia menjadi lebih intensif karena sensor yang dipergunakan sanggup menangkap hingga empat gambar dari semua tempat di bumi, setiap hari selama 20 tahun.

“Data jangka panjang ini membuat kita bisa menggali lebih jauh. Ketika area yang menghijau di bumi pertama kali diamati, kami berpikir itu karena iklim yang kian basah dan hangat, serta karena fertilisasi yang terjadi karena tambahan karbondioksida di atmosfer. Sekarang dengan data MODIS, kita tahu bahwa manusia juga berkontribusi,” ujar Rama Nemani, ilmuwan dari Ames Research Center NASA yang juga terlibat dalam penulisan penelitian ini.