CHANNEL8.ID – Ceriops Decandra adalah salah satu spesies mangrove yang dinyatakan hampir punah.

Namun siapa sangka, mangrove spesies Ceriops Decandra ini malah banyak ditemukan di pesisir utara kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, tepatnya di desa Lembung Paseser, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan.

Di sana, menempati lahan pesisir seluas sekitar 95 hektare, Ceriops Decandra tumbuh rapat alami dan nampak dominan di antara jenis-jenis mangrove lainnya.

Seperti Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Rhizophora Stylosa, Ceriops Tagal, Avicennia Marina, Avicennia Alba, Aegiceras Corniculatum, Argiceras Florirum, Bruguierra Gymnorrhiza, Lumnitzera racemosa, Sonneratia Alba, Nypa Fruticans, dan Pemphis Acidula.

Direktur Agrie Conservation, Agus Satriyono mengungkapkan, populasi Ceriops Decandra semakin menurun dan terancam hampir punah secara global.

“Tapi di sini (Bangkalan) Ceriops Decandra melimpah sekali, malahan seperti kebun teh,” ungkap Agus seperti dilansir dari Surya.co.id.

Ceriops Decandra memiliki daun berukuran 3-10 Cm x 1-4,5 Cm, berwarna hijau mengkilap berbentuk elips bulat memanjang dengan bagian ujung membundar.

Ekologinya tumbuh di sepanjang daratan dari perairan pasang surut yang berbatasan dengan tambak pantai.

Sedangkan penyebaran habitatnya meliputi India, Indocina, Malaysia, Bangka, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, Papua New Guinea, Filipina, dan Australia.

Karakter kayu Ceriops Decandra yang kuat dan tahan di antara jenis mangrove lainnya, kerap dijadikan bantalan rel kereta api dan kayu bangunan. Kulit kayunya bagus untuk bahan pewarna alami.

Menurut pria berusia 34 tahun kelahiran Tuban itu, beberapa faktor penyebab menurunnya populasi Ceriops Decandra dikarenakan banyak habitatnya beralih fungsi menjadi perumahan, tambak, dan pelabuhan.

“Kayunya keras. Ceriops Decandra juga bagus dijadikan tanaman bonsai,” jelas Agus yang concern di bidang penelitian, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Hasil kajiannya selama dua tahun terakhir, kondisi ekosistem di pesisir Desa Lembung Paseser masih terjaga.

Bahkan, di sela-sela akar mangrove dan karang masih banyak ditemukan tiram. Sedangkan di pantai kaya ikan kerapu, dan kakap merah.

“Ibu-ibu warga desa ini setiap hari mampu menghasilkan Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu dari hasil menjual tiram,” pungkas Agus.

Sementara itu, Dosen Ilmu Perikanan UTM Prof Dr Ir Muhammad Zainuri, MSc mengimbau masyarakat pesisir ikut turut menjaga ekosistem pesisir dengan cara tidak melakukan penebangan terhadap mangrove.

“Termasuk tidak membuang sampah ke perairan. Karena sampah yang menutupi akar mangrove menyebabkan mangrove itu mati,” imbaunya.

Hal itu dikarenakan, lanjutnya, kawasan mangrove merupakan bagian dari ekosistem perairan yang menjadi kawasan asuhan, kawasan mencari makan organisme perairan, dan kawasan masyarakat untuk menangkapan ikan.

“Mangrove bermanfaat besar terhadap lingkungan pantai dan tentu saja kepada manusia,” jelasnya.