Teknologi Freeneg, sebuah teknologi untuk menghadirkan energi yang murah dan berkesinambungan untuk rakyat, diyakini akan menjadi cikal bakal masa depan pengelolaan energi di tanah air.

Melihat peluang tersebut, Koperasi Empu Delapan Surabaya yang bahkan belum setahun berdiri, sudah tancap gas membangun sinergi. Memanfaatkan jaringan yang mereka miliki, Koperasi Empu Delapan mendapat kepercayaan untuk mendistribusikan sejumlah perangkat dan teknologi yang mengadopsi teknologi Freeneg.

Hal ini disampaikan Gunawan, pembina Koperasi Empu Delapan.

Dia mengatakan, koperasi Empu Delapan yang beranggotakan para alumni SMPN 8 Surabaya angkatan tahun 1982 adalah koperasi yang modern. Model usaha yang dikelola juga selaras dengan prospek masa depan yang dimiliki teknologi Freeneg.

“Perlu dicatat bahwa Koperasi Empu Delapan ini bukan koperasi seperti pada umumnya. Salah satu pembedanya, kami tidak melayani simpan pinjam untuk anggotanya. Kami ingin koperasi ini benar-benar profesional dikelola layaknya sebuah perusahaan,” ujar Gunawan yang diwawancarai usai demonstrasi teknologi Freeneg di Soil beberapa waktu lalu.

Selain tidak melayani simpan pinjam, koperasi Empu Delapan juga bukan koperasi yang dimiliki oleh perusahaan tertentu.

“Justru sebaliknya, koperasi ini adalah holding untuk lima perusahaan perseroan terbatas (PT). Ini tidak lumrah karena umumnya koperasi itu dibentuk oleh perusahaan,” sambungnya.

Dia membeberkan, salah satu PT yang ada di bawah Koperasi Empu Delapan nanti akan menjalankan usaha yang berkolaborasi dengan teknologi Freeneg. Salah satunya adalah teknologi pompa air dan penginderaan air bersih dengan teknologi Freeneg.

Mengapa Koperasi Empu Delapan yang diajak bekerjasama?

Menurut Gunawan, kata kunci pertama adalah jaringan. Saat ini, salah satu orang yang terlibat dalam pengembangan teknologi Freeneg juga bergabung sebagai anggota koperasi Empu Delapan. Selain itu, koperasi ini juga memiliki jaringan tak hanya dengan pemerintah maupun perusahaan swasta di dalam negeri, tetapi juga dengan perusahaan swasta di luar negeri.

Kedua, koperasi Empu Delapan dan Freeneg juga memiliki visi yang sama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang cerah.

Dia melanjutkan,  kolaborasi koperasi Empu Delapan dan Freeneg tidak akan melulu berorientasi profit. Keduanya juga akan menjalankan fungsi sosial. Paling dekat, keduanya akan bersama-sama membuka akses air bersih untuk kawasan-kawasan yang kesulitan akses air bersih.

“Koperasi Empu Delapan dan Freeneg akan membantu masyarakat di daerah tertinggal dan tidak punya akses air bersih. Berbeda dengan PDAM yang mengambil air kemudian diolah hingga jadi air bersih layak konsumsi, dengan penginderaan air serta pengeboran menggunakan teknologi Freeneg yang nanti dilakukan, air bersih dari sungai bawah tanah bisa langsung dikeluarkan untuk rakyat dan tidak akan habis-habis,” urainya.

Widodo Darto Wiyono mendemonstrasikan penerapan teknologi arus listrik DC untuk pembangkitan listrik skala rumah tangga.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekelompok ilmuwan di Indonesia tengah mengembangkan teknologi Freeneg. Dengan teknologi ini, terbukalah peluang untuk menghadirkan energi yang murah, berkelanjutan, sekaligus ramah lingkungan untuk masyarakat.

Widodo Darto Wiyono, Komisaris PT Terang Dunia Lestari yang terlibat dalam pengembangan teknologi Freeneg, mengatakan bahwa basis dari teknologi Freeneg adalah aki atau baterai yang sumber arus listriknya adalah arus listrik DC atau searah.

Katanya, selama ini sumber listrik DC hanya bisa dipakai untuk perangkat DC saja. Artinya, perangkat-perangkat rumah tangga dan lain sebagainya yang selama ini dibutuhkan masyarakat, tidak akan bisa menggunakan sumber arus listrik tersebut.

“Nah, teknologi kami memungkinkan sumber arus listrik DC dari aki bisa mengopreasikan semua peralatan tanpa menggunakan inverter. Kenapa? Karena sumber arus listrik dari aki ini kami beri modul tertentu sehingga mampu compatible dengan berbagai macam peralatan,” ujar Widodo saat ditemui di Solo, beberapa waktu lalu.

Widodo menyebutkan, teknologi Freeneg yang mereka kembangkan, sudah mendapat paten internasional dari WIPO (World Intellectual Property Organization). Dengan teknologi tersebut, Widodo berharap agar terjadi terobosan besar untuk akselerasi pemenuhan kebutuhan tenaga listrik di Indonesia.

“Di Indonesia, rasio elektrifikasi belum 100 persen. Artinya, masih ada wilayah yang terjangkau listrik. Selain itu, subsidi listrik dan subsidi BBM juga masih membebani APBN kita. Dengan teknologi Freeneg, wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik, bisa mendapat pasokan listrik karena arus listrik DC bisa diciptakan di manapun dan kapapnpun selama baterai atau aki tersedia,” lanjutnya.

Dia juga berharap, pengembangan teknologi Freeneg dapat memberi manfaat yang luar biasa besar, bukan hanya bagi Koperasi Empu Delapan, tetapi juga bagi masyarakat.

“Kami juga membuka diri untuk masyarakat yang ingin diberdayakan melalui teknologi Freeneg. Kami siap berikan pelatihan merakit perangkat-perangkat yang menggunakan teknologi Freeneg untuk kemudian kami beri label dan pasarkan,” pungkasnya.