Di Nottingham, Inggris, terdapat tiga bangunan yang dipakai untuk menyimpan lebih dari 3 juta fosil yang dihimpun selama lebih dari 150 tahun dari ribuan tempat di Inggris. Jumlah itu adalah sampel geologis paling banyak yang dikumpulkan dalam satu tempat.

Tak ingin koleksi itu sia-sia, British Geological Survey berencana membangun database yang mereka beri julukan ‘Geological Google’.

Michael Stephenson, paleontologist dari BGS mengatakan, jutaan fosil yang tersimpan di gudang tersebut selama ini seharusnya bisa lebih bermanfaat dan tak hanya diam di dalam kotak. Karena itu muncullah ide untuk membangun Geological Google.

Dikutip dari sciencemag.org, Stephenson mengatakan bahwa dengan jaringan database pengetahuan bumi yang diberi nama Deep-time Digital Earth (DDE), para peneliti dan ilmuwan dapat mengakses semua data yang mereka butuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar seputar bumi, misalnya pola diversitas selama waktu geologis, distribusi logam, dan bagaimana cara kerjanya sistem air tanah yang kompleks di Afrika.

Isabel Montanez, pakar kimia bumi di Universitas California mengomentari hal tersebut. Menurutnya, upaya ini sebenarnya bukanlah yang pertama, namun memiliki keuntungan-keuntungan kunci karena melibatkan dukungan dari internasional.

“Pendanaan dan dukungan infrastruktur dari pemerintah China, akan memberikan sokongan penting untuk keberhasilan DDE,” ujarnya.

Pada Desember 2018 lalu, proposal proyek DDE memang mendapatkan dukungan dari para komite eksekutif di International Union of Geological Science yang siap memberikan akses untuk koleksi-koleksi geodata yang dapat memberikan informasi tentang bagaimana distribusi dari material-material yang ada di bumi, termasuk material-material yang berbahaya, sekaligus di saat bersamaan memberikan gambaran sekilas mengenai masa depan bumi.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Beijing pekan ini, sebayak 80 ilmuwan dari 40 organisasi geoscience–termasuk BGS dan Russian Geological Research Institute–mendiskusikan bagaimana agar DDE dapat sudah dioperasikan pada Maret 2020, bersamaan dengan digelarnya kongres geologi internasional di New Delhi, India.

Lebih jauh, DDE muncul dari skema digitalisasi data yang dijalankan oleh China dan diberi nama Geobiodiversity Database (GDRB) pada 2006. Inisiatornya adalah paleontologist dari universitas Nanjing, C hina, yakni Fan Junxuan.

China sendiri memang sudah sejak lama memberi perhatian besar pada pengetahuan seputar bumi. Namun, data-data yang ada terserak di berbagai koleksi dan lembaga. Saat itu, Fan kemudian mulai menyusun GDRB agar data-data tersebut lebih bermanfaat.

“Akhirnya disepakati, pemerintah China akan menyiapkan anggaran 75 juta dolar AS selama 10 tahun agar rencana membangun DDE dapat teralisasi,” ujar Fan Junxuan.

Fan juga berharap DDE akan menarik perhatian dan dukungan dari internasional, tak hanya China.